Sabtu, 22 Agustus 2020

[TULISAN PASCA BERBAGI DAN BERCERITA EDISI JUNI]

  


Berbagi dan Bercerita UKM KPI Unhas Edisi Juni 2020

Berbagi dan Bercerita Ketiga dilaksanakan pada hari Minggu, 30 Juni pukul 16.20 sampai 17.45 WITA via aplikasi Jitsi. Terdapat 3 pengurus yang membagikan hasil bacaannya, di antaranya Muhammad Halim (Staf Divisi Humas dan Jaringan), Sri Fatimah Azzahra (Staf Divisi Kajian), dan Nihar Nurkhalifa (Staf Divisi Kesekretariatan). Moderator pada kegiatan ini adalah Dya’ul  (Angkatan 11 KPI).

Pada sesi pertama, moderator mempersilakan peserta pertama, Zahra, untuk mengulas novel Inferno karya Dan Brown. Inferno (neraka) digambarkan sebagai jalur berstruktur yang sangat rumit. Terdiri dari 9 lapisan yang masing-masing memiliki siksaan yang berbeda-beda. Neraka inilah yang menginspirasi La Mappa dell’ Inferno -nya Sandro Boticelli, pelukis ternama Italia. Jika pada Angel and Demons, kita berkenalan dengan zat anti-materi, pada buku ini kita akan mengenal sebuah vector virus, virus yang sanggup memodifikasi DNA manusia sehingga bisa membuat manusia menjadi steril (atau bisa dibilang mandul).

Alur cerita berkisah tentang petualangan Robert Langdon, seorang pakar simbol dari Universitas Harvard yang berusaha menghentikan penyebaran virus misterius. Cerita dimulai ketika Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence, Italia tanpa bisa mengingat mengapa ia berada di sana. Padahal ingatan terakhirnya adalah berjalan pulang setelah memberi kuliah di Harvard. Belum sempat ia memahami semuanya, saat itu di depan matanya dokter yang merawatnya ditembak mati dan Langdon menjadi incaran si penembak. Langdon berhasil lolos berkat Sienna Brooks, seorang dokter muda cantik yang penuh rahasia. Dalam pelariannya bersama Sienna, Langdon menyadari bahwa ia harus bergerak cepat melawan waktu untuk memecahkan teka-teki yang dibuat berdasarkan puisi-puisi mahakarya terhebat yang pernah ditulis yaitu Inferno Dante Alieghieri, untuk menemukan ciptaan genetis yang disembunyikan oleh seorang ilmuwan fanatik bernama Bertrand Zobrist yang terobsesi pada kehancuran dunia dengan dalih ingin menyelamatkan manusia dari kepunahan. Zobrist meyakini bahwa Kiamat sudah tak lama lagi. Ledakan populasi manusia semakin memperburuk keadaan. Overpopulasi dianggap menjadi biang keladi utama permasalahan saat ini.

Setelah itu, peserta kedua, Halim, membagikan hasil bacaannya terhadap novel Laskar Pelangi. Selayaknya permen nano-nano yang berubah-ubah sensasinya tiap kunyahan, novel karya Andrea Hirata ini menggambarkan polemik kehidupan yang begitu abstrak, dari sudut pandang seorang bocah miskin dari keluarga buruh tambang bernama Ikal ditampilkan kemewahan yang dapat diperoleh oleh setiap manusia terlepas dari suku, ras, dan agamanya: Ilmu Pengetahuan. Bersama 11 anggota laskar pelangi lainnya, Ikal memperoleh kemewahan tersebut dari sekolah yang lebih tepat apabila dikatakan kandang kambing. Meskipun begitu tidak sekalipun mereka semua mengeluh, tidak satu kalipun, malahan pendidikan yang mereka peroleh adalah berkat tuhan yang tidak dapat digantikan oleh apapun di dunia ini.

Dengan sosok Mahar si bocah jenaka dengan penuh imajinasi, kreatifitas, dan rasa cinta akan dunia seni serta sosok Lintang si bocah lusuh dengan kedalaman pikiran dan logika yang mampu mengimbangi Albert Einstein sekalipun, mereka membawa harapan seluas samudra dan memasukkannya kedalam sanubari setiap anggota laskar pelangi lainnya. Jika sebelumnya bagi mereka pendidikan hanyalah formalitas belaka, kedua sosok tersebut hadir dan merekonstruksi bahwa pendidikan itu jauh, sangat jauh diatas apapun yang pernah mereka pikirkan dalam hidupnya, adalah gerbang keajaiban menuju kemungkinan tanpa batas. Namun sekali lagi, seperti jalan yang tidak selalu mulus dan lampu yang tidak selalu terang, kenyataan hidup menyambar mereka lebih keras daripada petir itu sendiri.

Bagi Halim, pribadi karakter-karakter laskar pelangi ini dapat dimanifestasikan menjadi sebuah bentuk pemikiran, seperti sosok Lintang yang pendidikannya mati di tengah jalan, pandangan Halim terhadap kemurnian pendidikan telah lama mati dan tidak lebih lagi daripada alat pemuas nafsu material belaka. Baca dan resapi kehidupan mereka, dan temukan diri anda tersentuh, tertawa, dan menangis dalam setiap lembarannya. Laskar pelangi, manisnya kanak-kanak, dan pahitnya kedewasaan melebur menjadi Maestro yang dapat mengubah pandangan kita akan kehidupan itu sendiri.

Terakhir, Nihar sebagai peserta ketiga mengulas film “The Blind Side”. Film ini menceritakan mengenai biografi Michael Oher, seorang pemain American Football yang telah mendapatkan begitu banyak penghargaan. Namun lika-liku kehidupannya untuk mencapai kesuksesaan itu tidaklah mudah karena pengaruh lingkungan yang buruk serta trauma masa kecil yang membuat ia menjadi tunawisma. Hal tersebut perlahan mulai berubah saat bertemu dengan Leigh Anne dan keluarganya yang membantu Michael Oher dalam memahami permainan American Football ini dengan memahami potensi yang ia miliki dan mengembangkannya seperti membayangkan bahwa tim football ini sebagai keluarganya karena Michael Oher ini memiliki 90% insting melindungi. Pada dasarnya setiap orang memiliki potensinya masing-masing maka peran orangtua dan lingkungan memiliki peran yang andil dalam mengasah dan memunculkan kemampuan terpendamnya. Sehingga perlu dipahami apa yang dibutuhkan seseorang dan apa yang ingin dicapai dengan menggunakan potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai tujuan.

Pada setiap sesi, peserta yang ada di room dipersilakan untuk memberi pertanyaan terkait buku yang telah diulas. Di akhir kegiatan Berbagi dan Bercerita, moderator memberi kesimpulan dan motivasi untuk terus membaca buku dan membagikan pelajaran yang telah didapatkan kepada orang lain. Tentunya, Berbagi dan Bercerita ini adalah salah satu wadahnya.

0 comments:

Posting Komentar