Rabu, 22 April 2020

[ESAI: PRODUKTIF #DIRUMAHAJA, MAHASISWA BISA ASAH PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN DIRI]

 Andi Aisyah Alqumairah
Angkatan VII UKM KPI Unhas

Physical Distancing selama pandemi Covid-19 merupakan anjuran dari World Health Organization (WHO) untuk mengurangi potensi penyebaran virus dari satu orang ke orang yang lain. Terlebih Covid-19 dapat menular dari individu tanpa gejala apapun. Sejak tanggal 16 Maret hingga 17 April 2020, pemerintah mengeluarkan surat edaran baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota untuk melakukan social distancing (mengurangi kontak sosial) setidaknya selama masa isolasi 14 hari terutama bagi individu yang memiliki gejala atau telah melalui perjalanan lintas kota/kabupaten, provinsi, atau negara lain. Beberapa waktu kemudian, istilah social distancing bertranformasi menjadi istilah physical distancing (pembatasan interaksi fisik) oleh World Health Organization dengan tujuan melakukan pembatasan secara fisik atau kontak langsung tanpa menghentikan komunikasi sosial yang dapat dilakukan masyarakat melalui daring, online, atau sosial media sehingga perasaan diisolasi tidak berdampak secara signifikan pada masyarakat (WHO, 2020).
Pandemi Covid-19 selain berdampak pada fisik, juga berdampak pada kondisi psikologis masyarakat. Hal terebut sejalan dengan penjelasan Taylor (2019) bahwa pandemi menjadi suatu stressor psikososial bagi masyarakat seperti adanya ancaman kesehatan, gangguan pada rutinitas, kondisi terpisah dari keluarga dan teman, kondisi karantina yang erat kaitannya dengan kondisi stres, keterbatasan makanan dan obat, serta adanya bayangan kematian keluarga, teman, atau orang yang dicintai. Seperti yang dilansir oleh beberapa informasi berita internasional dan nasional, masyarakat menunjukkan adanya perasaan cemas (anxiety) ketika mendengarkan suara ambulance atau hal-hal yang berkaitan dengan penyebaran virus. Taylor (2019) dalam bukunya Psychology of Pandemic, masa pandemi diawali dengan adanya sikap acuh tak acuh atau penyangkalan resiko yang diikuti dengan ancaman sebagai suatu reaksi ketakutan. Hal ini juga terjadi pada sejarah pandemi Swine Flu dalam penelitiannya menemukan 83% masyarakat merasa cemas akan kematian (death), keterbatasan (disability), dan perasaan dihindari oleh orang lain (avoid by others). Selain kecemasan (anxiety), isu psikologis lainnya yang terasa selama masa pandemi adalah panic buying, psikosomatis, hingga stress (Kilgo, at al, 2018).
Berbagai kondisi psikologis tersebut seperti kecemasan, ketakutan, atau pemikiran irasional dapat diminimalisir dengan mengikuti berbagai kegiatan yang dapat membuat individu menjadi produktif. WHO (2020) menjelaskan bahwa coping stress (upaya meminimalisir stress) dalam masa pandemi Covid-19 dapat dilakukan dengan berbicara kepada orang yang dipercaya seperti orang tua, keluarga, atau teman apabila merasa sedih, stress, cemas, atau bingung selama masa pandemi berlangsung. Hal tersebut juga didukung oleh banyaknya konseling melalui daring atau online yang disediakan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) di seluruh Indonesia dan berbagai universitas sebagai salah satu kontribusi untuk membantu menanggulangi Covid-19. Selain itu, WHO (2020) juga menganjurkan masyarakat untuk tetap mempertahankan kondisi imunitas tubuh dengan tetap di rumah, mengonsumsi makanan bergizi, tidur yang cukup, dan melakukan komunikasi dengan rekan kerja atau teman melalui sosial media atau telepon. Kemudian anjuran lainnya masyarakat dapat memperoleh fakta yang kredibel dan aktual berkaitan dengan Covid-19 yang berasal dari berbagai website resmi baik dari organisasi internasional maupun pemerintah setempat. Kemudian, masyarakat juga dapat membatasi informasi yang mengkhawatirkan dan membuat kondisi diri menjadi cemas termasuk berkaitan dengan data persebaran Covid-19 yang bagi sebagian orang dapat memicu perasaan cemas. Hal tersebut dapat diminimalisir dengan berkomunikasi dengan keluarga, menonton atau mengikuti siaran televisi yang bersifat menghibur, serta melakukan berbagai hobby atau kesenangan lainnya (WHO, 2020).
Sebagai mahasiswa, pembelajaran beralih menjadi pembelajara online baik melalui google classroom, zoom cloud, google meets, hingga WhatsApp group bersama dosen dan teman-teman kampus. Mengikuti pembelajaran online memiliki banyak tantangan terutama bagaimana mahasiswa dapat menyesuaikan diri dengan proses pembelajaran, waktu, dan tugas yang diberikan. Hal tersebut juga serupa dengan mahasiswa tingkat akhir yang saat ini sedang menyelesaikan penelitian skripsi juga perlu melakukan penyesuaian model bimbingan dan konsultasi yang beralih menjadi model online hingga seminar hasil dan ujian sidang skripsi yang akan dilaksanakan melalui daring. Hal ini sesuai dengan kebijakan kampus masing-masing untuk membantu arahan pemerintah memutus rantai penyebaran covid-19 yang berpeluang besar tersebar di lingkungan kampus.
Selain berkaitan dengan proses pembelajaran, perasaan cemas atau takut juga dapat diminimalisir dengan melakukan berbagai kegiatan positif yang dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah skill, salah satunya dengan mengikuti berbagai platform online untuk memperoleh banyak pengetahuan. Berbagai platform online yang dapat diikuti untuk mengembangkan skill di bidang sosial dan entrepreneurship seperti Festival di Rumah aja oleh ID Next Leader, course online (belajar data scientist, TOEFL, manajemen CV beasiswa, hingga belajar jadi Youtuber) di Skill Academy, webinar online tentang isu women empowerment, seminar tentang pandemi Covid-19 (penyebaran, pencegahan, sejarah pandemi, resiko, hingga coping stress) yang banyak diadakan oleh profesi dokter, psikolog, hingga lembaga sosial. Berbagai platform online yang hadir selama physical distancing merupakan suatu bentuk kepedulian dari berbagai organisasi agar masyarakat dapat belajar dan berdiskusi langsung dengan pembicara berkompeten dari bidang masing-masing (dosen, ilmuan, entrepreneur, influencer, aktifis sosial, hingga pemerintah) secara daring. Selain mengikuti pembelajaran online, hal lain yang dapat dilakukan yaitu membawakan beberapa sharing session sebagai pemateri atau speaker melalui platform zoom dan live Instagram sebagai upaya mendukung arahan pemerintah agar produktif dari rumah.
Membaca buku juga dapat menjadi alternatif kegiatan di rumah untuk memperoleh informasi. Buku yang dapat dibaca seperti buku yang telah lama dibeli namun belum sempat dibaca atau ditamatkan. Selain buku bacaan, review materi perkuliahan juga dapat dilakukan dengan membaca kembali catatan kuliah, text book, atau buku kontemporer lainnya karena terkadang saat sibuk, mahasiswa tidak sempat mengulang kembali pembelajaran sebelumnya untuk meningkatkan pemahaman. Hal tersebut sangat berguna juga bagi mahasiswa akhir yang akan menyelesaikan studi. Persiapan materi dan penguasaan teori sangat diperlukukan untuk kepentingan ujian sidang terlebih sebagai persiapan diri dan pengetahuan sebelum memperoleh gelar sarjana. Selain buku-buku, mahasiswa juga dapat mengakses penelitian terbaru berkaitan dengan pandemik Covid-19 dan keterkaitannya dengan berbagai bidang terutama bidang yang digeluti oleh mahasiswa itu sendiri (jurusan), seperti dampak Covid-19 terhadap perekonomian masyarakat, hubungan sosial dan tradisi budaya komunitas masyarakat, dampak psikologis, kebijakan pemerintah, kondisi pekerja informal yang bergantung pada industri, hingga bagaimana ketahanan pangan dan pekerja sektor agrikultur dalam menjamin ketersediaan pangan masyarakat di tengah anjuran physical distancing. Informasi tersebut sangat diperlukan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan penelitian dan hasil riset, sehingga memungkinkan pemikiran kritis dapat terasah untuk memikirkan ide dan inovasi.
Ide dan inovasi dari mahasiswa dapat disalurkan dengan mengikuti berbagai lomba atau event online yang banyak diselenggarakan oleh kementerian dan universitas di seluruh Indonesia. Perlombaan tersebut banyak menghimpun ide dan inovasi para mahasiswa untuk menggagas upaya penanggulangan Covid-19 di Indonesia baik secara ide, produk, jasa, maupun teknologi. Berbagai lomba yang dapat diikuti seperti lomba essai, karya tulis ilmiah, video edukatif, desain poster, kisah inspiratif, teknologi, sampai desain ilustrasi dapat diikuti dengan berbagai pemikiran solutif mahasiswa. Ide yang yang sering diutarakan secara lisan atau melalui daring kepada teman dan kerabat sebagai bentuk kepedulian sosial menghadapi Covid-19 ini dapat disusun dalam bentuk tulisan dan karya yang tentu dapat bermanfaat bagi sesama masyarakat.
Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan selama physical distancing adalah melakukan hobby dan mengasah keterampilan seperti bermain musik, menari, atau dance sesuai dengan kesukaan masing-masing. Selain itu, membuat dekorasi salah satunya dengan menjahit masker produksi rumah juga dapat menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk dapat melakukan pencegahan Covid-19. Menggambar, melukis, membuat kerajinan dapat menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan emosi ketika berada di masa pandemi sekaligus untuk mengasah keterampilan diri. Bermain sosial media dengan membuat konten kreatif seperti konten pencegahan Covid-19, konten positif untuk saling menyemangati, membantu menyebarkan informasi penyaluran donasi (open donation), hingga bermain sosial media sebagai hiburan selama di rumah sekaligus berkomunikasi dengan teman dapat dilakukan. Dewasa ini, banyak konten kreatif yang hadir di sosial media sebagai suatu aksi positif mendukung pencegahan Covid-19 seperti challenge video¸ bermain bingo, hingga social experiment lainnya.
Selain yang berkaitan dengan aktivitas pengembangan diri, banyak hal juga dapat ditingkatkan selama beraktivitas di rumah seperti meningkatkan kedekatan dengan Tuhan dengan beribadah sesuai kepercayaan masing-masing, meningkatkan komunikasi dengan keluarga melalui aktivitas bersama, melakukan refleksi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai upaya introspeksi diri, dan melakukan relaksasi dengan memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk beristirahat, memperoleh hiburan, hingga melakukan ‘me time’ untuk mengenal diri lebih mendalam. Dari berbagai aktivitas di atas, physical distancing tidak menghalangi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas yang produktif baik untuk menambah pengetahuan, melatih skill, dan melakukan berbagai kesenangan lainnya. Semoga masyarakat senantiasa mengambil pembelajaran dari pandemi Covid-19 dengan memanfaatkan waktu melakukan berbagai kegiatan positif selama di rumah.

Sumber:
Kilgo, D. K., Yoo, j., & johnson, T. j. (2018). Spreading Ebola panic: Newspaper and social media coverage of the 2014 Ebola health crisis. Health Communication, 1-7. doi:10.1080 /10410236.2018.1437524
Taylor, S. (2019). The Psychology of Pandemics Preparing for the Next Global Outbreak of Infectious Disease. UK: Cambridge Scholars Publishing.
World Health Organization. (2020). Latest Number Covid-19 Globally. National Authorities, CET 9 April 2020



0 comments:

Posting Komentar