Selasa, 01 Januari 2019

MENGALIR MELINTASI ZAMAN: MENEBAR IDE DAN GAGASAN TANPA BATAS

MENGALIR MELINTASI ZAMAN: 
MENEBAR IDE DAN GAGASAN TANPA BATAS

Secangkir Literasi kembali hadir yang menjadi salah satu wadah dalam mewujudkan budaya ilmiah yang dirangkaian dengan penutupan dan penganugerahan kepada peserta Kelas Opini. Malam itu, Proses bedah buku dan diskusi dari program kerja Secangkir Literasi terbuka untuk umum, peserta yang hadir bukan hanya dari Keluarga Besar UKM KPI Unhas. Acara ini kemudian dipandu oleh Kak Syuraswati yang bertindak selaku pemantik bedah buku “Mengalir Melintasi Zaman : Menebar Ide dan Gagasan Tanpa Batas” yang dimoderatori oleh Kak Akbar. Kak Syuraswati selaku pemantik kemudian menguraikan beberapa bagian dari buku yang dibuat oleh Prof.Dr.A. Arsunan Arsin. Kak Syuraswati menceritakan kisah dari buku tersebut mulai dari Prof Arsunan kecil hingga sekarang yang penuh lika liku. Menariknya dalam bedah buku yang menjadi bagian dari program kerja Secangkir Literasi juga dihadiri oleh sang penulis Prof.Dr.A. Arsunan Arsin yang akrab disapa kak Chunank.

Mengalir Melintasi Zaman: Menebar Ide dan Gagasan Tanpa Batas bercerita mengenai kisah hidup dari Prof. Arsunan dari masa kecil hingga sekarang. Buku ini terbagi atas 5 bagian utama, yaitu Episode 1962-1980 (Masa Kecil di Kampung Halaman), Episode 1981-1990 (Masa Pergulatan sebagai Aktivis Mahasiswa di Unhas), Episode 1991-1998 (Masa Pengembangan Diri sebagai Dosen), Episode 1999-sekarang (Masa Pengabdian dan Transformasi) serta Epilog. Terdapat pula tambahan “bonus” sepuluh artikel pilihan tulisan kak Chunank yang terkait dengan kompetensinya di bagian akhir.

Sebuah autobiografi yang dikemas dengan sangat menarik menjadi buku yang inspiratif untuk memahami dan mengenal lebih dekat sosok Prof. Dr.A. Arsunan Arsin. Diskusi tersebut pun berhasil menggugah dan memotivasi peserta dengan beragam kisah hidup yang telah dilalui oleh Prof Arsunan yang tentunya menghasilkan banyak percikan-percikan hikmah di tiap-tiap peristiwanya yang dilaluinya.

Berangkat dari pengalaman masa kecil yang terbilang tidak mudah, namun tetap dibarengi dengan kolaborasi didikan seorang ayah yang tegas, disiplin, kharismatik dan seorang ibu yang lemah lembut, kini mengantar seorang Kak Chunank menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting. Memasuki masa menjadi seorang aktivis kampus, beliau memiliki banyak pengalaman terkait aksi-aksi mahasiswa, beliau pun sempat memimpin aksi pembelaan terhadap senior yang terancam drop out. Aksi tersebut dilakukan selain faktor solidaritas, pun karena tidak ingin masalah yang sama terus berimbas pada mahasiswa yang lain. Hingga tiba di masa pengembangan diri, beliau semakin membuat kita berdecak kagum hingga perjalanannya menjadi seorang professor.

Bagian paling unik dari kisah Prof Arsunan dalam buku ini yakni saat beliau diangkat menjadi seorang dosen yang tak kurang dari 24 jam setelah berstatus sebagai alumni Universitas Hasanuddin. Beliau diterima pada Formasi dosen (satu orang dokter gigi) di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Setelah diangkat menjadi dosen, beliau kemudian melanjutkan studinya untuk focus mengembangkan karir barunya.

Memoar yang ditulis oleh Prof Arsunan yang menampilkan narasi yang apik dan inspiratif. Mengutip salah perkataan dari Saifuddin AlMughny bahwa Buku Mengalir Melintasi Zaman merupakan curahan sekaligus episode yang bagi penulisnya untuk bertransformasi ide dan gagasan, sebab hidup sang penulis yang tidak hanya mendiami kampus-kampus, bahkan ruang publik pun menjadi "sahabat". Beliau adalah 'penyaksi sejarah' bagi penulisnya, dan orang -orang tercinta di sekelilingnya.

Diskusi panjang mengenai bedah buku ini terus berlanjut hingga beberapa pertanyaan terlontar dari peserta terkait rasa ingin tahunya lebih banyak dengan kisah sang penulis. Kita tahu bahwa saat ini Prof Arsunan menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, kemudian hal ini menjadi kesempatan peserta diskusi untuk melontarkan beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan yang terlontar dari audiens bukan hanya terkait dengan kisah hidup yang tertuang dalam buku ini, tetapi juga terkait dengan permasalahan kampus saat ini yang melibatkan mahasiswa dan birokrasi. Prof. Arsunan kemudian menjawab dengan lugas setiap pertanyaan yang terlontar dari peserta diskusi.

Sebelum menutup acara malam itu, moderator kemudian melanjutkan sesi selanjutnya yakni penyerahan penghargaan kepada peserta Kelas Opini yang diserahkan langsung oleh Prof Arsunan selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Akhinrnya malam itu ditutup dengan sesi foto bersama.



0 comments:

Posting Komentar