Selamat Datang di Website Resmi
UKM KPI Unhas

UKM KPI Unhas merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Hasanuddin yang bergerak di bidang Keilmuan dan Penalaran

Blog

LATEST FORM Blog

[RESUME] OPTIMALISASI DAN INOVASI PENGEMBANGAN KAWASAN TERLUAR, TERDEPAN, TERTINGGAL (3T) DALAM MENDUKUNG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL (RPJMN) TAHUN 2025

OPTIMALISASI DAN INOVASI PENGEMBANGAN KAWASAN TERLUAR, TERDEPAN, TERTINGGAL (3T) DALAM MENDUKUNG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL (RPJMN) TAHUN 2025

(Resume Seminar Nasional INOVASI UKM KPI UNHAS)
Baruga A. P. Pettarani UNHAS MAKASSAR, 29 Oktober 2017

BERDAMPINGAN. Ketiga pemateri, Nur Agis Aulia (Founder Banten Bangun Desa), Indah Putri Andriani (Bupati Luwu Utara) dan Andi Iqbal Parewangi (Anggota DPD-RI) berfoto bersama setelah membawakan materi pada Seminar INOVASI 2017.

            Pengembangan kawasan terluar, terdepan dan tertinggal (3T) menjadi salah satu fokus pemerintah belakangan ini. Pengembangan kawasan 3T dinilai akan berdampak pada kemajuan bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memajukan ketiga kawasan tersebut sebagaimana dapat kita lihat pada program-program pemerintah, khususnya kementerian desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi.
            Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah Universitas Hasanuddin (UKM KPI UNHAS) memandang bahwa percepatan pengembangan kawasan 3T dapat dilakukan dengan optimalisasi dan inovasi sumberdaya lokal yang dimiliki oleh kawasan tertinggal tersebut. Dilatarbelakangi oleh hal itu, UKM KPI UNHAS menyelenggarakan seminar nasional, INOVASI dengan mengangkat tema “Optimalisasi dan Inovasi pengembangan kawasan terluar, terdepan, tertinggal (3T) dalam mendukung rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJMN) tahun 2025”
            Hadir sebagai pembicara pada seminar nasional ini, A. M. Iqbal Parewangi (Anggota DPD Republik Indonesia), Hj. Indah Putri Indriani (Bupati Luwu Utara), dan Nur Agis Aulia (Founder Banten Bangun Desa), ketiga pembicara menyampaikan gagasan dan solusi terkait dengan kawasan 3T sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya masing-masing, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini:
            “Bung Hatta pernah menyatakan bahwa Indonesia itu, obornya ada di Jakarta. Tetapi obor itu tidak cukup untuk menerangi seluruh Indonesia. Olehnya itu, kita perlu menyalakan lilin-lilin, dan lilin lilin itu ada di daerah-daerah. Lilin-lilin itu hanya bisa menyala dengan adanya inovasi-inovasi, bukan hanya dari pemerintah daerah tetapi juga seluruh anak negeri.” Demikian pentingnya pengembangan kawasan 3T menurut Hj. Indah Putri Indriani, Bupati Luwu Utara, bupati yang telah membangun daerahnya dan melepaskan predikat ‘daerah tertinggal’ kabupaten yang dipimpinnya
             Berbicara tentang kawasan 3T, problem terbesarnya sampai saat ini bukanlah masalah pendanaan, sebab ada begitu besar dana yang dialirkan ke pedesaan atau kawasan 3T tetapi masalah terbesar ketertinggalan kawasan 3T sekarang ini adalah kurangnya sumberdaya manusia yang memadai yang ada di kawasan 3T untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di daerahnya. Sarjana muda yang berasal dari kawasan 3T setelah menyelesaikan pendidikannya, tidak lagi ingin kembali ke daerahnya masing-masing. Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang ada di pedesaan.
            Kondisi kurangnya sumberdaya manusia yang berkualitas di kawasan 3T perlu disikapi dan disadari oleh semua kalangan, khususnya generasi muda yang telah menyelesaikan pendidikannya di perkotaan untuk kembali mengabdikan diri di kawasan 3T. Bukan berarti bekerja di perkotaan itu adalah sebuah kesalahan, tetapi pembagian antara tenaga kerja berkualitas (dengan parameter pendidikan) di pedesaan dan perkotaan (3T) harus proporsional. Nur Agis Aulia adalah salah satu contoh sarjana muda yang kembali ke desanya di Banten dan mengembangkan potensi sumberdaya yang ada di daerahnya dalam bidang pertanian dan peternakan. Untuk diketahui, sebelum menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cumlaude Nur Agis Aulia telah diterima untuk bekerja di sebuah BUMN, tetapi tawaran pekerjaan itu ditolaknya dan lebih memilih kembali ke daerahnya dan menjadi petani dengan omzet lebih dari 2 miliar setiap tahunnya. Intinya kata Nur Agis Aulia, inovasi dan aksi nyata dari generasi muda sangat diperlukan untuk pengembangan kawasan 3T.
            Selain itu, pemerintah pusat juga harus menetapkan kebijakan yang tepat dalam menyelesaikan persoalan keterbelakangan kawasan 3T. Salah satunya menurut A. M. Parewangi adalah meng-otonomi khusus-kan semua daerah di Indonesia. Selain itu, setiap daerah harus mampu melakukan diplomasi alah Papua. Diplomasi khas Papua, adalah diplomasi yang didasarkan pada kata “merdeka”. Diplomasi alah Papua adalah diplomasi yang diikuti oleh tiga diskripsi. Teman-teman Papua sangat piawai berbicara dengan tiga hal, yaitu kami miskin, kami bodoh, kami tertinggal dan lalu untuk itu melakukan diplomasi merdeka dan untuk itu sebagai balasaanya diperolehlah 8 Triliun setiap tahunnya.

            Pada akhirnya, regulasi yang baik, dana yang memadai, inovasi dari pemerintah daerah, hanyalah penopang semata, karena kunci pengembangan kawasan 3T adalah ide, inovasi dan aksi nyata dari generasi muda terbaik, yang dimiliki oleh bangsa ini. Generasi muda? Mari beraksi!

HASIL SELEKSI TAHAP TERAKHIR OPRECT ANGKATAN IX UKM KPI UNHAS



Assalamu'alaikum wr. wb.

Salam ilmiah!

Terima kasih kami ucapkan telah melalui serangkaian seleksi open recruitment UKM KPI Unhas Angkatan IX dengan cukup baik.

Menyeleksi sekitar kurang lebih 260 peserta yang mendaftarkan diri di UKM ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Kami harus bekerja ekstra untuk menentukan siapa yang pantas dari kalian untuk bergabung menjadi keluarga besar UKM KPI Unhas. Seleksi pada tahun ini telah kami perketat dari tahun-tahun sebelumnya, maka terjaringlah sekitar 132 orang yang mampu bertahan hingga pada seleksi akhir.

Kami yakin bahwa 132 orang yang bertahan sampai pada seleksi akhir ini mampu untuk mempertanggungjawabkan segala bentuk proses yang telah dialami selama masa welcoming session, mentoring, presentasi hingga pada tahap wawancara. Memang melelahkan, namun kami berharap bahwa regenerasi yang muncul pada angkatan IX ini mampu mengangkat nama dan menjaga nilai-nilai UKM KPI Unhas kini hingga nanti.

Kami mengucapkan selamat bergabung dengan UKM KPI Unhas, semoga dengan bergabungnya kalian menjadi penerus estafet keilmiahan di UKM KPI Unhas mampu memberikan atmosfir baru yang lebih prestatif dan kontributif kedepannya.

Oleh karena itu, kami segenap pengurus, panitia, serta seluruh keluarga besar UKM KPI Unhas berterima kasih telah memilih menjadi bagian dari keluarga besar kami.

Selanjutnya, kami mengundang seluruh Angkatan IX UKM KPI Unhas untuk menghadiri Training of Smart Student (TOSS) yang akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal       : Minggu, 26 November 2017
Pukul                   : 07.00 WITA - 17.00 WITA
Tempat                : Pelataran Gedung IPTEKS Universitas Hasanuddin



atau jika link diatas bermasalah, silakan masuk pada laman http://bit.ly/Angkatan9UKMKPI

Demikian penyampaian ini kami sampaikan, besar harapan kami kalian dapat menjaaga semangat dan antusiasme kalian selama menjadi kader UKM KPI Unhas.

Jaya Penalaran, Jaya UKM KPI Unhas!

Pengumuman Tahap II Open Recruitment UKM KPI Unhas Angkatan IX

Halo para penalar muda angkatan IX!

Terima kasih telah melalui tahap II dengan cukup baik. Karya kalian, kontribusi kalian selama menyusun ide hingga pada pada proses mentoring telah melalui tahap penilaian. Keaktifan kalian selama proses mentoring juga telah melalui penilaian dari kami. Oleh karena itu, kami mengucapkan selamat bagi kalian yang terpilih untuk melaju ke tahap III, "OPEN RECRUITMENT UKM KPI UNHAS ANGKATAN IX". Pengumuman dapat kalian akses di:

http://bit.ly/SiapSiapTahap3

Setelah ini masih ada beberapa seleksi yang akan kalian lalui untuk menjadi Keluarga Besar UKM KPI Unhas. Agenda selanjutnya adalah tahap persentasi yang dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal  : Minggu, 12 November 2017
Pukul               : 08.00 WITA - selesai
Tempat            : Lantai Dasar Rektorat Universitas Hasanuddin

Tetap jaga semangat untuk melalui tahap-tahap selanjutnya. Tinggal sedikit lagi untuk menjadi bagian dari keluarga besar UKM KPI Unhas!

Jaya Penalaran!
Jaya UKM KPI Unhas!

SEMINAR NASIONAL INOVASI 2017

Halo Mahasiswa Indonesia!!
Unit Kegiatan Keilmuan dan Penalaran Ilmiah Universitas Hasanuddin dengan bangga mempersembahkan National Seminar INOVASI 2017, dengan tema: "Optimalisasi dan Inovasi Pengembangan Kawasan Terluar, Terdepan, Tertinggal (3T) dalam Mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025"
Dalam acara ini akan dihadirkan pembicara-pembicara yang kompeten, diantaranya :
1. H. Moh. Ramdhan Pomanto (Walikota Makassar) - Keynote Speaker
2. A.M. Iqbal Parewangi (Anggota DPD Republik Indonesia)
3. Hj. Indah Putri Indriani (Bupati Luwu Utara)
4. Nur Agis Aulia (Founder Banten Bangun Desa, Peraih berbagai penghargaan di bidang pengembangan desa)
5. Dr. Jayadi Nas, M.Si
It wilk be held on:
πŸ“…  29 Oktober 2017
⌚ 08.00 Wita - Selesai
πŸ“  Gedung Baruga AP.Pettarani Universitas Hasanuddin
With only 25K you can get:
✔ Ilmu
✔ Sertifikat
✔ Snack
Kamu bisa mendapatkan tiketnya dengan datang langsung ke Sekretariat UKM KPI Unhas di Gedung PKM 1 Lt. 2, Universitas Hasanuddin atau membelinya secara online dengan menghubungi kontak dibawah ini :
Budiman : 085341875393
Mirawati : 085756692963
GRAB IT FAST!! DIBUKA UNTUK UMUM
For more information:
✉ Email : inovasi.unhas@gmail.com
πŸ“± Instagram : @inovasi_unhas
πŸ“± Line : @tth6568L
πŸ“± Twitter : @inovasi_unhas
πŸ“± Facebook : INOVASI UKM KPI Unhas

[PENGUMUMAN FINALIS INDONESIAN YOUTH FESTIVAL OF SCIENCE (INOVASI) 2017]

Hallo Sahabat Inovasi !!


Tidak terasa hari yang dinanti-nantikan datang juga. Selamat kepada 15 Tim Terbaik kategori Lomba Karya Tulis Mahasiswa dan Siswa

yang dinyatakan lolos dan berhak mempresentasikan karyanya di INOVASI 2017, Makassar. Bagi yang belum berhasil jangan berkecil hati tetap semangat dan lanjutkan perjuangan.

Lihat Pengumuman lengkapnya di : bit.ly/FinalisINOVASI2017

"Pemenang sejati adalah mereka yang telah berjuang dan terus bangkit ketika terjatuh"

Sampai jumpa di Kampus Merah Universitas Hasanuddin, Makassar 😊😊

Tetap pantau akun sosmed kami..
Prepare your self !!
----------------
Find us πŸ‘‡
✉ Email : inovasi.unhas@gmail.com
πŸ“± Instagram : @inovasi_unhas
πŸ“± Line : @tth6568L
πŸ“± Twitter : @inovasi_unhas
πŸ“± Facebook : INOVASI UKM KPI Unhas
πŸ“± Website : http://inovasi.ukmkpiunhas.org

Cp :
Khairul : 0812 4252 0005
Faisal : 0812 4381 9167

#INOVASI2017
#UKMKPIUnhas
#ExtraOrdinaryCitizenforRPJPN #RPJPN
#infolomba
#lktinasional2017












[OPINI] Kemana Mahasiswa Setelah Berinovasi?

Kemana Mahasiswa Setelah Berinovasi?
Pasca penutupan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 Universitas Muslim Indonesia


Dimuat pada laman harian Fajar edisi Senin, 26 Agustus 2017

Oleh : A. Khalil Gibran Basir
Koordinator Divisi Media dan Informasi UKM KPI Unhas
Periode 2017


      "Perhelatan akbar bagi inovator muda bangsa, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 Universitas Muslim Indonesia patut mendapat apresiasi yang besar dari insan mahasiswa di seluruh Indonesia. Program yang mempertemukan 1845 peserta dari sebanyak 420 Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) terbaik di Indonesia ini merupakan hasil dari seleksi sekitar 77.000 proposal PKM yang terdaftar pada laman Simbelmawa RistekDikti."

Panjang Umur Perjuangan! Tim PKM-M Sabtu Satu Atap
      Dibuka dengan sajian spektakuler, perhelatan PIMNAS ke-30 di Universitas Muslim Indonesia merupakan salah satu ajang yang  menjadi tolok ukur prestasi dan kreatifitas mahasiswa di bidang penalaran, penelitian, penerapan teknologi, karsa cipta, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat.  Program ini berhasil mempertemukan para inovator muda bangsa di bidangnya masing masing. Terdapat tujuh jenis skim PKM yang diperlombakan di PIMNAS kali ini antara lain PKM-PE (Penelitian Eksakta), PKM-PSH(Penelitian Sosial Humaniora), PKM-K (Kewirausahaan), PKM-M (Pengabdian untuk Masyarakat), PKM-KC(Karsa Cipta), PKM-T (Penerapan Teknologi), dan PKM-GT (Gagasan Tertulis).

      Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) memacu setiap mahasiswa untuk berpikir secara divergen sehingga dapat berkontribusi terhadap bangsa dan negara dengan menyediakan alternatif pemecahan masalah yang sedang berkembang di masyarakat. Mahasiswa juga dituntut untuk memiliki jiwa kompetitif serta profesionalitas terlebih bahwa setiap program memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda tergantung pada skim dan tema yang diangkat. Namun seberapa professionalkah mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan hasil dari program mereka yang telah diangkat dan dipublikasikan kepada masyarakat? Apakah mahasiswa hanya memandang PIMNAS hanyalah kompetisi yang biasa? Ataukah mungkin hanya ajang untuk mempertanggungjawabkan program terhadap RISTEKDIKTI selama perhelatan beberapa hari ini?

      Sedikit dari cerita yang penulis alami bahwa dalam membangun program kreatifitas mahasiswa membutuhkan waktu yang tidak sedikit hingga sampai pada ajang PIMNAS ke-30 pada tahun ini. Butuh perjuangan selama kurang lebih satu tahun jika dihitung dari pengunggahan proposal untuk memikirkan ide, mempersiapkan, melaksanakan, serta mempertanggungjawabkan hasil dari ide yang telah dibangun sejak awal. Sehingga, sejak penyusunan ide hingga pada tahap penyelesaian program, mahasiswa sudah harus mulai bernalar memikirkan bagaimana keberlanjutan program kedepannya. Terutama ketika posisi mahasiswa bersangkutan sudah tidak ada pada sistem yang bersangkutan. Potensi keberlanjutan program dapat terabaikan dan memiliki nilai kebermanfaatan yang tidak berkesinambungan.

      Bukankah mahasiswa adalah agen perubahan dalam masyarakat? Jika benar demikian, maka mahasiswa dituntut untuk melakukan perubahan setidaknya untuk diri sendiri terlebih dahulu. Berubah untuk lebih bertanggungjawab kepada diri sendiri atas ide yang telah dikemukakan. Demikian halnya aktualisasi pertanggungjawaban atas ide kepada Tuhan dan masyarakat. Ketika ide perubahan hanya sekedar perubahan tanpa adanya konsistensi dari perubahan ataupun nilai kebermanfaatan atas ide, maka perubahan yang dialami tidak lebih dari sebuah angin lalu bagi masyarakat.

      Belajar dari tahun tahun sebelumnya, implementasi atas Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) sebenarnya sangat banyak di masyarakat. Terlebih bahwa dari data yang tercatat oleh RISTEKDIKTI pada tahun ini terdapat sekitar ribuan proposal lulus didanai dari sekitar 77.000 PKM yang telah terunggah. Namun yang terjadi adalah hanya sebagian kecil yang masih terdengar gaungnya di masyarakat. Selebihnya hanya sampai pada tahap monitoring dan evaluasi oleh RISTEKDIKTI.

      Mungkin tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi hambatan utama dari setiap mahasiswa enggan melanjutkan program PKM adalah pada pendanaan sebab dari pengalaman penulis, dana merupakan hal krusial bagi pelaksanaan program kreatifitas mahasiswa. Rentang waktu serta masa studi perkuliahan yang terbatas juga merupakan faktor utama dalam melanjutkan PKM. Namun, inovasi bukanlah sebuah inovasi jika tidak memiliki tantangan dalam pelaksanaannya. Idealnya, mahasiswa harus pandai dalam mengatur segala sumberdaya yang ada sehingga seluruh kegiatan dapat terlaksana. Bukankah Mahasiswa adalah manusia paripurna yang nantinya akan berkembang menjadi bibit-bibit pemimpin masa depan?


      Seyogianya,  setiap PKM dirancang dengan memperhatikan aspek keberlanjutan sejak awal dibangunnya program hingga pada tahap penyelesaian akhir. Sebab pertanggungjawaban sebenarnya dari sebuah PKM bukan pada RISTEKDIKTI akan tetapi kepada Tuhan dan Masyarakat terdampak. Harapan penulis bahwa semoga ajang PIMNAS ke-30 tahun ini memiliki nilai kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Bukan hanya untuk menunjukkan kegigihan dari setiap universitas dalam mengemukakan inovasi akan tetapi sebagai bahan untuk terus berbenah bagi bangsa dan negara. PIMNAS hanyalah sebagian kecil dari pertanggungjawaban atas ide yang telah dikemukakan mahasiswa ke bangsa ini, selebihnya pertanggungjawaban yang lebih besar telah menunggu kepada Tuhan, dan masyarakat.

[OPINI] BENARKAH “RELAWAN”? (Catatan Lanjutan Tentang Menjadi “Orang Luar”?) Oleh: Abdul Masli E-mail:abdulmasli01@gmail.com


BENARKAH “RELAWAN”?
(Catatan Lanjutan Tentang Menjadi “Orang Luar”?)
Oleh:
Abdul Masli
E-mail:abdulmasli01@gmail.com
Panorama alam desa pedalaman

“Datang dengan suka cita, pulang dengan suka ria”
Kutipan tersebut bagi saya menjadi point penting yang coba disampaikan oleh kak Ria, Kepala Sikola Inspirasi Alam (SIA) Periode 2017-2018, pada kegiatan besseng-besseng di gedung IPTEKS Unhas, 5 Agustus 2017 sebagai motivasi ataupun pesan dari refleksi diri selama menjadi relawan di SIA. Besseng-besseng yang bagi saya bermakna musyawarah, termasuk ide yang kreatif, dibanding istilah rapat. Oh iya, kita kembali ke pembahasan, bahwa kakak-kakak relawan SIA yang hadir membahas tentang tujuan Sikola yakni membangun pendidikan anak pedalaman. Visinya untuk periode 2017-2018 yakni lebih kepada melahirkan generasi terdidik (semoga tidak salah), yang jelas tujuannya saya rasa akan mengarah pada bagaimana mewujudkan pendidikan sebagai program “memanusiakan manusia” atau humanisasi. Kemudian pembahasan intinya adalah bagaimana program kerja untuk kelanjutan program SIA Periode 2017-2018.
Istilah tentang pendidikan sebagai proses untuk memanusiakan manusia, saya coba melihat konsep pendidikan kritis ala Paulo Freire, apalagi sekarang lagi hangat-hangatnya perumusan konsep pengaderan di berbagai lembaga mahasiswa kampus tempat saya belajar. Pengaderan yang dianggap sebagai proses pendidikan, maka beberapa lembaga mahasiswa mulai melihat konsep pendidikan kritis sebagai tujuan yang ingin dicapai, hal ini karena dalam pendidikan kritis mengajarkan tentang mewujudkan kesadaran. Bagi Freire pendidikan mesti memanusiakan manusia, yakni manusia yang menyadari dirinya dan realitas lingkungannya, kemudian mampu merefleksi diri dan bertindak. Lantas, sudahkah kita mewujudkan tujuan pendidikan sebagai proses “humanisasi”? silahkan muhasabah diri sendiri. Dalam catatan ini, saya hanya akan mencoba menuliskan pengalaman dan hipotesa dari pengamatan singkat selama bergabung dalam komunitas relawan pendidikan.

“Orang Luar” Melihat “Orang Dalam”: Sebuah Pelajaran dari Pengalaman
Dalam tulisan saya sebelumnya (Menjadi “Orang Luar”?), telah disinggung sedikit bagaimana orang luar terperangkap karena pengalaman dan kenaifan diri, diperparah dengan anggapan bahwa dirinya memiliki pengetahuan karena sekolah tinggi-tinggi, atau karena statusnya yang dianggap lebih baik dibanding orang desa, selanjutnya diperparah dengan kunjungan singkat ke desa dan menyimpulkan secara tergesa-gesa. Seperti pendapat Robert Chambers berikut.
 Pengalaman langsung kebanyakan ‘orang luar’ tentang kehidupan di desa, terbatas pada kunjungan singkat yang dilakukan tergesa-gesa, semacam ‘turba’ yang bukan ‘turun ke bawah’ tetapi ‘turisme pembangunan”. (Chambers, 1987: 2).

Dari kutipan tersebut, saya teringat terhadap pengalaman selama menjadi relawan dan ikut bergabung dalam beberapa kegiatan SIA. Ada banyak pengalaman yang menarik selama kegiatan. Namun, yang menyedihkan bahwa benar, selama ini kunjungan singkat dan dugaan terhadap orang pedalaman adalah ketertinggalan dan pinggiran. Intinya apapun tentang orang dalam seolah identik dengan kemiskinan bahkan ilmu pengetahuan yang kurang, sementara orang luar merasa orang yang paling tahu berbagai hal. Padahal yang mesti kita sadari bahwa masyarakat adalah guru bagi kita, dari mereka mengajarkan tentang usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam kondisi sulit, hubungan sosial yang sangat kuat, serta keberagaman budaya dengan sikap toleransi yang sejati menciptakan perdamaian dapat kita jumpai di desa pedalaman.
Prasangka Menjebak tentang Kemiskinan
Kemiskinan menjadi isu sentral yang sering dibahas terutama yang berhubungan dengan pebangunan. Bahkan 17 program SDGs 2030 selanjutnya saya coba rangkum menjadi 3 tujuan utama yakni mengarah pada bagaimana mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terwujudnya keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Tapi, berbicara tentang kemiskinan seringkali kita (orang luar) terjebak dalam prasangka-prasangka pribadi. Menurut Chambers (1987), terdapat enam prasangka yang sangat menonjol yakni (1) Prasangka keruangan: kota, terminal, dan jaringan jalan raya; (2) Prasangka proyek; (3) Prasangka kelompok sasaran; (4) Prasangka musim kemarau; (5) Prasangka diplomatis: sopan-santun dan malu-malu; dan (6) Prasangka profesional.
Prasangka keruangan, merupakan prasangka yang meramal kondisi daerah pedesaan diperoleh dari atas kendaraan. Bermula dan berakhir di pusat kota, kunjungan menuruti jaringan jalan, bahaya jalan yang berdebu, kenyamanan pengunjung, lokasi yang dikunjungi dan tempat menginap, risiko kehabisan bahan bakar dan waktu, menjadi komplikasi dalam prasangka terhadap kemiskinan. Bahkan prasangka keruangan kadang menjadi jarak yang menghalangi untuk melihat realitas kemiskinan di pedesaan. Prasangka ini menguatkan kota sebagai tujuan utama dibanding ke desa jika ingin tinggal menetap, kecuali untuk datang berwisata menikmati keindahan desa.
Kasus di atas, seolah menjadi prasangka yang ikut mewarnai beberapa pandangan saya ketika menjadi relawan pengajar di Sikola Inspirasi Alam. Awalnya niat mengikuti kegiatan tersebut selain karena perasaan yang ingin belajar dan berbagi bersama anak-anak pedalaman yang kurang beruntung menikmati program pendidikan sebagaimana mestinya. Ternyata, ketika saya mencoba merefleksikan diri, terselip sebuah niat untuk jalan-jalan menikmati suasana desa yang indah, sampai pada akhirnya tulisan ini terwujud. Tapi ketika kita mengambil definisi “memanusiakan manusia” sebelumnya di awal tulisan, maka ini menjadi proses yang mengalir, dimana saya mulai berpikir dan mulai bertindak meskipun hanya sedikit. Lagi-lagi pertanyaan muncul benarkah diri ini menjadi “relawan”?. Ah sudahlah, yang jelaskan ada juga istilah-istilah yang menurut saya sebagai alasan untuk mengelak yakni “I’m Relawan and Wisatawan”.
Selanjutnya prasangka tentang proyek. Dalam tulisan lanjutan Chambers, terjelaskan bahwa proyek ini menempatkan staf proyek untuk menanggung sebagian dari kesalahan karena penyusunan laporan pemimpin proyeknya sendiri. Laporan-laporan yang disusun masih terbuai dengan mitos yang dihidup-hidupkan dengan buaian kepercayaan terhadap kekuatan moral. Sebagian proyek kadang hanya melengkapi laporan penelitian sebelumnya, namun tidak melakukan riset mendalam. Inilah yang disebut bahwa mitos yang membangun kepercayaan terhadap kekuatan moral dalam sebuah proyek orang luar, di dalamnya tertanam tragedi karena proyek tersebut setapak demi setapak didorong ke arah kepalsuan diri, kebanggaan kosong, pembenaran diri, dan berakhir dengan penelanjangan (Chambers, 1987: 25).
Dalam kegiatan relawan seringkali orang luar mengarah pada dramatisasi dari sasaran sebuah program. Gambaran umum sasaran program seringkali digambarkan begitu tragis, sehingga memicu pada rasa kasihan. Hal ini kemudian dimanfaatkan sebagai jalan mengalang donasi. Tapi, dalam diri kadang berkecamuk tanda tanya, apakah benar seorang relawan dengan cara menyiarkan kesengsaraan dari sasaran program?. Tapi, jika dilihat secara positif, jalan ini bisa menjadi sebagai solusi alternatif kritik terhadap praktisi pembangunan dalam melihat realitas yang ada di sekitar kita. Semoga cara seperti ini membawa manfaat bukan justru membawa kelompok sasaran program ke arah kesenjangan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kadangkala gambaran yang disiarkan berbeda ketika dilapangan, pengawasan perlu di tingkatkan, mengingat ada segelintir elit (tokoh) yang berbenturan, inilah yang kemudian masuk ke dalam prasangka kelompok sasaran, yang kadang kala berakibat fatal terhadap sebuah program kerelawanan.
Untuk prasangka musim kemarau menjadi salah satu prasangka yang kadang menjebak. Hal ini karena kadang-kadang orang luar mendatangi desa pada saat musim kemarau, sementara secara umum harus dipahami bahwa dalam satu tahun setidaknya akan berlangsung dua musim yakni musim kemarau dan musim penghujan. Kemudian kondisi terburuk yang sering terjadi adalah kadangkala orang luar (peneliti) malas datang ke desa ketika kondisi penghujan. Menurut Chambers (1987) banyak tamu-tamu pedesaan yang berlatar belakang perkotaan telah menjadwalkan kunjungannya sesuai musim dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti berikut.
“Para mahasiswa pasca-sarjana percaya akan teori umum, bahwa musim hujan tidak baik untuk meneliti desa, karena pakaian basah kuyup dan sepatu penuh lumpur”

Menikmati panorama alam nusantara

Namun, dari contoh tersebut, kadang berbeda dengan kondisi relawan. Kadangkala mereka tetap berangkat dan melaksanakan program. Tapi, kondisinya adalah mereka hanya melakukan kunjungan singkat, kemudian beraktivitas dan pulang dengan cerita. Seperti halnya kondisi yang saya alami, bergabung dalam sebuah relawan pendidikan anak pedalaman, tinggal dan menetap selama kurang lebih tiga hari di lokasi, berinteraksi dengan masyarakat, kemudian pulang dengan oleh-oleh gambar diri berbingkai keindahan dari alam nusantara.
Prasangka diplomatis menjadi salah satu bayangan terhadap pandangan orang luar tentang kemiskinan di desa. Pandangan yang kadang menjadi batas diri terhadap keterbukaan orang desa karena perilaku sopan-santun dan malu-malu mengiring seseorang menjadi terkesan kaku dalam beriteraksi. Perilaku orang luar sering memandang orang miskin di desa berbeda statusnya, lebih terpandang, dan berpendidikan. Akibatnya perasaan malu dan takut muncul untuk mendekati, menemui, mendengarkan dan belajar dari rakyat desa itu sendiri. Pertanyaan yang mendalam pun sering terlupakan karena sikap yang cenderung inklusif menjadi akibat yang sering muncul dari prasangka diplomatis ini. Seperti pendapat Robert Chambers (1987) berikut.
“Orang kota sering dihinggapi rasa rikuh dalam menghadapi rakyat desa yang miskin, karena dihambat rasa sopan-santun dan malu. Mereka takut mendekati, menemui, mendengarkan dan belajar dari rakyat desa”

Berbeda dengan relawan, kadang solusi terhadap kasus prasangka diplomatis ini justru hadir dari mereka. Pendekatan sederhana seperti hadir di tengah masyarakat desa, kemudian duduk, bertanya dan mendengar menjadi praktik yang sering diterapkan. Sikap belajar dengan masyarakat miskin di desa pun lebih dominan diterapkan. Meskipun terkadang, kegiatan relawan ini masih terbentur oleh pemilihan dan pandangan terhadap tokoh masyarakat karena anggapan bahwa mereka lebih mengetahui banyak hal, program yang kadang buru-buru dan terlalu egois terhadap pandangannnya sendiri tanpa data penunjang. Tapi terlepas dari kendala itu, setidaknya kehadiran relawan di desa, menjadi salah satu solusi dan aksi nyata yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam memikirkan cara mengatasi kesejangan sosial di desa.
Prasangka professional sendiri merupakan prasangka yang kadang ada pada orang luar dengan menganggap dirinya sebagai orang yang paling tahu segala hal. Sementara kearifan yang dimiliki oleh warga desa kadang terabaikan. Prasangka ini cenderung mengarah pada spesialisasi profesi dengan melihat keunggulan seseorang. Status gelar kadang menjadi salah satu contoh yang sering terlihat. Akibat dari prasangka ini lebih kepada kondisi dimana kaum profesional lebih banyak melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, sehingga mereka cenderung mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terbuka karena pandangan sebagai diri yang lebih menguasai suatu bidang yang lebih professional. Intinya prasangka ini lebih menitikberatkan pada kondisi orang luar yang merasa dirinya lebih hebat dibanding masyarakat atau lebih kepada kondisi profesionalime yang sempit. Menurut Chambers (1987) profesionalisme yang sempit  mengarah pada penelaahan dan cara penanggulangan yang tidak tuntas, karena hanya memperhatikan dan menyentuh salah satu seginya saja.
Misal pengalaman yang pernah saya alami, sebelum berangkat ke lokasi pengabdian relawan untuk mengajar pendidikan bagi anak pedalaman. Setiap tim yang dibagi dengan masing-masing fokus pengajaran, menyiapkan media pembelajaran. Saya kemudian bersama tim kelas formal yang di dalamnya ada pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia menyiapkan model pembelajaran sederhana dan rangkaian huruf. Namun ketika di lokasi, realitas berbeda yang kami hadapi. Ketika hari pertama, anak-anak sulit memahami pelajaran yang diajarkan ketika menggunakan media pembelajaran yang disiapkan. Akhirnya pada hari kedua pengabdian, metode kami ubah dan menggunakan media alam sekitar yang sudah akrab dengan mereka. Akhirnya mereka pun dengan mudah mengerti apa yang kami ajarkan. Satu pelajaran yang dapat diambil dari contoh ini, bahwa prasangka professional (“sok tahu”) merupakan prasangka yang terkesan naΓ―f dan buru-buru karena hanya mengandalkan sisi etik orang luar dibanding emik masyarakat sasaran. Sehingga yang dilihatnya pu hanya kulit bagian terluarnya.
Namun, terlepas dari berbagai prasangka diatas, pada intinya bahwa menjadi relawan akan banyak pelajaran hidup yang didapat. Kehidupan sederhana namun bahagia bisa kau dapat terutama menjadi relawan di desa pedalaman. Hubungan solidaritas masyarakat yang masih kental dengan pengetahuan lokal, semangat gotong royong, kesadaran diri terhadap realitas di lingkungan sendiri bisa membangun sikap sosial, pengelolaan konflik pun dapat ditemui ketika menjadi relawan, bahkan kepuasan diri lewat potret dengan latar alam menjadi salah satu oleh-oleh yang sulit untuk dilupakan. Aksi nyata bukan lagi sekedar retorika yang tergambar jelas, dan menjadi relawan semoga membawa manfaat dunia dan bermanfaat di akhirat kelak.

DAFTAR PUSTAKA
Chambers, Robert. 1987.Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang. Jakarta: LP3ES.

PENGURUS 2019
image
Mohd. Riswan bin Jamal
Ketua Umum
image
Andi Khusnul Fatima Bahar
Sekretaris Umum
image
Isna Lestari
Bendahara Umum
Address

ContactInfo

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Cupiditate veritatis modi, sunt atque, reprehenderit aut!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Cupiditate veritatis modi, sunt atque, reprehenderit aut!

Address:

25, Lomonosova St. Moscow, Russia, 665087

Phone:

+01 7070771723, +01 8956412305

Email:

support@myname.com