Postingan

ESSAY POPULER ANNIVERSARY 7TH : UKM KPI UNHAS : MAHASISWA, PASSION DAN BUDAYA ILMIAH

UKM KPI UNHAS : MAHASISWA, PASSION DAN BUDAYA ILMIAH
Arifuddin Jamil
Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin
Angkatan V UKM KPI Unhas

Defenisi, pengertian dan makna dari pertanyaan apa itu organisasi sejatinya telah banyak diutarakan oleh para pemikir dan orang-orang bijak. Mari mengutip beberapa diantaranya. Pertama, pengertian organisasi menurut Stephen P. Robbinss adalah suatu kesatuan sosial yang telah terkoordinasi secara sadar dengan adanya sebuah batasan yang relatif dan dapat diidentifikasi serta bekerja berdasarkan yang relatif secara terus-menerus agar dapat mencapai tujuan bersama. 
Organisasi menurut James D Mooney adalah suatu bentuk setiap perserikatan oleh manusia dalam mencapai tujuan secara bersama. Sedangkan, pengertian organisasi menurut Stoner adalah suatu pola yang memiliki hubungan-hubungan yang melalui orang-orang dengan bergerak bersama ke tujuan lewat pengarahan atasan. Semua sepakat bahwa organisasi akan bermuara pada tujuan yang sama. Organisasi adalah kumpulan pikiran, fisik serta tindakan dari orang-orang dengan passion yang sama, atau setidaknya hampir sama untuk mewujudkan tujuan organisasi. Pun demikian dengan UKM KPI Unhas, sebuah organisasi yang mencoba menyalurkan passion orang-orang yang penuh ego dan ambisi tanpa batas.
Syahdan, di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di timur Indonesia, Universitas Hasanuddin sebutannya. Mahasiswanya aktif, superaktif malah. Aksi-aksi nyata dengan turun demo, diskusi malam dan menjadi event organizer adalah hal yang lumrah disini. Di tengah pandangan masyarakat yang antipati kepada mahasiswa, mahasiswa Unhas setidaknya tetap pada jalur yang benar, menjalankan peran dalam mengejawantahkan fungsi-fungsi mahasiswa yang telah mendarah daging hampir 100 tahun lamanya di bumi Indonesia. Namun, Unhas kekurangan satu hal, organisasi penelitian mahasiswa tingkat universitas tidak ada diantara hiruk pikuk dan hingar bingar kegiatan kemahasiswaan.
Dinamis, begitu kata orang. Dinamisasi yang terjadi, perubahan-perubahan yang menuntut terbentuknya suatu hal baru yang belum ada, mendorong beberapa golongan mahasiswa, anggota Department Riset BEM Unhas -yang entah mengapa tak lagi eksis hingga saat ini-, berembuk untuk membentuk suatu UKM baru yang katanya akan fokus pada keilmuan dan penelitian di bidang mahasiswa. UKM KPI lah namanya. 
Begitulah kemudian KPI hadir dan mencoba masuk -kalau tidak ingin dibilang mengganggu-, dunia kemahasiswaan Universitas Hasanuddin. Dari yang awalnya tidak dipandang, sekarang mulai menancapkan pondasi-pondasi cakar yang kuat di kampus merah. Tak tanggung-tanggung Open Recruitment setiap tahun hampir menyamai jumlah mahasiswa baru di Fakultas Kesehatan Masyarakat, FISIP dan Farmasi. Tapi belum sebanyak mahasiswa baru Fakultas Teknik tentu saja. 
Pihak kemahasiswaan sangat mendukung gerak UKM baru ini, simbiosis mutualisme, terjalin disini. Disatu sisi, kemahasiswaan senang dengan suntikan prestasi anak KPI –yang katanya amat sangat membantu kampus sebagai seorang “pahlawan”-. Di sisi lain, KPI senang dengan suntikan dana kemahasiswaan, kegiatan memang dapat saja berjalan tanpa adanya dana, namun, akan semakin lancar dengan aliran dana. Disinilah sebagian fungsi birokrasi, sebagai penyuntik dana organisasi, walau sekarang administrasi pengurusannya agak susah dan sedikit menyebalkan, saya tidak mau bilang dipersulit, karena ini tidak sulit. Sebagiannya lagi tidak jelas.
Dua tahun bersama KPI tentu bukanlah waktu yang sebentar, telah banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan dalam waktu-waktu itu. Bahkan, ikut serta menjadi orang-orang terdepan sebagai pemutar roda organisasi pun telah dijalani. Entah bagaimana jalannya roda itu, semoga tidak melenceng dari tujuan akhir KPI. 
Organisasi adalah kumpulan orang, orang-orang yang akan datang dan mencoba merasakan atmosfer organisasi, jika tertarik ia akan tinggal, jika tidak, Ia hanya akan menjadi bagian dari administrasi dalam bentuk selembar kertas formulir. KPI sebagai organisasi begitu pun adanya, tidak semua akan bertahan dan melalui hari-hari di tempat yang kita sebut Rumah Ilmiah. Ada yang tak mampu merasakan nyamannya dan menetap di sini. Orang-orang inilah yang saya sebut mantan atau juga calon anggota yang tak pernah jadi. –Ini pendapat subjektif sebagai anggota organisasi-.
Beberapa yang nyaman akan membesarkan diri di KPI. Merasakan atmosfer berlembaga yang katanya berbeda dengan atmosfer lembaga kemahasiswaan fakultas dan jurusan. Tentu beda, KPI adalah organisasi minat sedangkan organisasi fakultas dalam hal ini Himpunan dan BEM adalah organisasi pengaderan. Adalah keliru jika membandingkan keduanya. 
Kecenderungan anggota UKM KPI adalah orang-orang yang ingin berkembang cepat dalam dunia kemahasiswaan, berkembang cepat yang saya maksud adalah keinginan untuk berprestasi dan menambah embel-embel finalis, participant ataupun juara. Untuk mahasiswa tipe seperti ini, KPI dalah sebuah booster yang mempercepat langkah mereka, dan kader seperti inilah yang menjamur di KPI. Salahkah? Tidak. Penulispun begitu.
Menjadi permasalahan kemudian adalah jika hanya segelintir kader saja yang mengerti dan mau membangun organisasi, mengerti dan memahami visi dan misi organisasi, melaksanakan program kerja sesuai indikator keberhasilan serta tetap menjalankan fungsi-fungsi individu sebagai seorang mahasiswa. KPI adalah alat dan kader adalah operator. Secanggih apapun alatnya, jika sang operator hanya duduk diam disampingnya, alat ini tidak akan bergerak dan berfungsi. KPI punya visi besar untuk menciptakan budaya ilmiah di kampus merah namun saat ini operatornya masih minim pengetahuan, belum bersinergi dan bekerja sama serta belum kompak untuk menjadi satu tubuh yang saling sakit bersama senang bersama. Pertanyaan kemudian muncul, bagaimana mewujudkan budaya ilmiah di kampus merah kalau internal UKM masih belum kuat, belum kompak, belum utuh. Bagaimana mau menembak burung jika senjata belum terakit sempurna. Pencarian jawaban dari pertanyaan inilah yang harus menjadi perhatian kader-kader ke depan.
Pada dasarnya, UKM KPI mencoba memahasiswakan mahasiswa, yaitu bagaimana mengembalikan fungsi mahasiswa sebagai suatu kesatuan utuh melalui budaya ilmiah. Sebagai creator of change, moral force, social control dan iron stock dalam bingkai ilmiah dan indahnya penalaran. Mengembalikan marwah fungsi organisasi bukan hanya sebagai event creator dan anggotanya sebagai event organizer. Tetapi, lebih kepada membentuk karakter dan pribadi mahasiswa sesuai dengan perkembangan zaman, bukan menjadi budak zaman dan menjadi kalangan apatis tanpa gerak, UKM KPI mencoba membentuk kader-kadernya agar berkarakter ilmiah.
Sudahkah KPI sampai pada tahap membentuk karakter mahasiswa yang ilmiah? Usia tujuh tahun bukan usia yang cukup dewasa untuk bertindak sendiri, itu jika acuannya adalah manusia. Namun, jika dalam tataran organisasi, usia tujuh tahun adalah usia dimana organisasi sudah harus mulai memiliki pondasi yang kuat, tata kelola administrasi yang baik, pengarsipan yang terorganisir dan sistem kaderisasi yang mampu menciptakan kader-kader unggul dalam manajerial dan kepemimpinan.  
Tujuh tahun yang gemilang, menjadi bukti eksistensi UKM KPI di tengah beragamnya paham kemahasiswaan di kampus merah, tema membangun cita dan cinta, kebersamaan, kekeluargaan dan loyalitas rasanya pas jika melihat kondisi sekarang. KPI membutuhkan cinta para kadernya untuk membangun cita Unhas ilmiah, kebersamaan dan kekeluargaan hanya dapat terbentuk jika dilandasi dengan kecintaan pada organisasi, yang mana hanya akan dirasakan oleh segelintir orang yang paham betul luar dalam KPI. 
Loyalitas adalah lain soal, sebab loyalitas menuntut seratus persen –atau sembilan puluh-, all out. Rasanya susah menjadi loyal di organisasi kemahasiswaan. Tuntutan akademik dan keinginan berprestasi akan membuat kader mengesampingkan organisasi. Sehingga bagi saya, loyal adalah sebuah bentuk ideal, tak akan pernah seratus persen nyata. Untuk kondisi KPI cukuplah cinta dan rasa memiliki kader terhadap UKM yang harus dipupuk, sikap loyal akan mengikuti, walau tak akan total.
Usia tujuh tahun, mari melihat ke belakang, sudah sejauh mana KPI melangkah dari titik startnya pada 18 April 2009. Sudahkah garis start jauh tak terlihat di belakang, ataukah masih jelas tiangnya. Jawabannya, garis start sudah jauh namun finish masih lebih jauh, KPI sudah berkembang, sudah melahirkan kader, tak lagi dipandang sebelah mata, sekretariat pun telah di dalam kampus. Tantangan ke depan adalah bagaimana semakin memperbaiki administrasi organisasi dan memasifkan kader dalam kegiatan-kegiatan organisasi, bukan kemudian hanya satu, dua, atau tiga orang saja yang selalu tampak. Itu-itu saja.
Anggota KPI adalah orang-orang yang akan datang, memilih pergi atau tinggal, membesarkan, memelihara dan menjaga lalu diakhir akan meninggalkan jejak. Tak ada yang akan tetap tinggal di KPI kecuali secuil tinta sisa tanda tangan dan setumpuk administrasi yang semoga akan terus terbarukan setiap tahun. KPI tak akan sedih ditinggal, karena akan selalu ada bibit baru yang tumbuh melalui sistem kaderisasi, bagai siklus tak terputus.
Andai nanti di Unhas ternyata ilmiah dan sikap ilmiah tak pernah mampu terwujud seratus persen, setidaknya KPI telah menebar benih-benih itu, di dalam aliran darah kader-kader loyalisnya, dalam pikiran orang-orang yang pernah duduk dan minum kopi dari cangkir-cangkirnya, dari kaki orang-orang yang menjejak sandal ilmiahnya, dan dari mereka yang (pernah) tertidur begitu lelap dalam ruang kecil empat kali tiga meter yang akan selalu kita sebut sebagai rumah. Kader yang sejauh manapun kakinya berjalan, akan selalu rindu untuk kembali.
KPI memang bukanlah suatu negara, pun sang ketua bukanlah seorang presiden apalagi raja. Tidaklah etis jika terlalu mengharap perubahan besar hanya dalam setahun masa kepengurusan, sebab ia hanyalah seorang mahasiswa biasa yang mencoba menumbuhkan bibit-bibit ilmiah dalam balutan almamater merah. Setidaknya jika setahun berlalu dan belum banyak perubahan, mari mengintrospeksi diri, memperbaiki yang salah dan melanjutkan yang telah pada jalurnya. Mari bersama kita kembali ke definisi organisasi, sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama. Bersama kita bangun UKM tercinta ini, menuju visi masa depan untuk mewujudkan budaya ilmiah di kampus merah Universitas Hasanuddin.
 Panjang Umur KPI! Panjang Umur Perjuangan!
 In Science The Truth Always Wins.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UKM KPI Unhas Designed by A. Khalil Gibran Basir and Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.